]

Mulut Para Elit Membuat Gaduh! KERASNYA Seruan Ustad Haikal Hasan di ILC, Jadikan Rumahmu Posko Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno

ilustrasi
Ini gaduh karena mulutnya para elit, kalau kita Betawi bilang bacot jangan bilang kasar ye, emang Betawi ngomongnya begitu yeh, ya Babe ya. Ini gara-gara mulutnya para elit, coba, PKB bilang tidak mewakili suara umat, gitu. Hanura bilang, tidak mewakili semua ulama, gitu. PSI bilang, ulama apa, gitu. Bahkan Pak Moeldoko juga ikut agama jangan dibawa-bawa ke politik, bahkan Farhat juga bilang pilih Jokowi masuk surga gitu loh, dan akhirnya hari ini kita lihat, Bang Nusron, meragukan kredibilitas yang hadir ke yang kalau ke simpulkan, karena yang hadir nggak mau dukung Pak Jokowi jadi kurang keulamaannya gitu, mudah-mudahan kagak, Ya mudah-mudahan kagak. Tapi harus saya catat bahwa yang disana hadir dan mendukung bukan cuma hadir Tapi catat yang mendukung, Ada ustadz Bachtiar Nasir, ada Ustad Arifin Ilham, ada Kyai Sobri Lubis, ada Tengku Zulkarnain, ada Kyai Haji Abdullah Rasyid Abdullah Syafii, ada zaitun Rasmin, ada Syukron...Kyai Syukron Makmun, ada Kyai Haji Cholil Ridwan, ada Habib Muhsin, ada Habib kharismatik Habib Ali, dan didukung oleh dari NU Kyai Haji najih Maimun Zubair, Haji Toha Masya Allah kalau ini diragukan kredibilitasnya dengan kemudian mencari definisi yang di cocok-cocok in yaitu Alim, Yah syahlah, lalu untuk umat Jadi kesimpulannya mereka yang hadir itu nggak Alim, nggak Yah Syahlah, nggak untuk umat, kalau saya lihat sih itu sedikit menjurus kepada fitnah gitu loh.

 Karena yang tahu yah syahlahkan Allah sendiri sama orang yang bersangkutan Bagaimana bisa Nusron mengatakan yang ulama itu yah syahlah dan yang disini kurang yaa syahlah.  Nggak bisa juga hati-hati definisi itu akan meluas dan melebar di kalangan arus bawah, di kalangan temen-temen yang di bawah, begitu. Nah jadi kenapa menjadi gaduh kalau sekelompok orang yang tadi saya Sebutkan secuil itu lalu nggak bisa menampilkan sebuah statement yang awalnya cantik banget Bang Nusron. Kami mengucapkan selamat. Udah selesai udah cukup, jangan pakai yang di bawah bawahnya lagi jadi ramai jadi gaduh lagi gitu loh. Apalagi dengan mengambil apa tadi 1953 55 (53) 19 53, loh Bang Nusron minta maaf Yang mana itu bang Nusron, di Ijtima' ulama 1 dan 2 nggak ade bang. Coba dibuktikan kepada publik, bagaimana bang Nusron sebagai seorang tokoh mengambil data yang salah, terus menyajikan ke publik itu berbahaya sekali. Saya, penasehat GNPF dan itu tidak ada.

Tidak ada mengambil dasar itu tidak ada, dasarnya jelas Al Maidah ayat 1, Al Imron 76, Al A'rah 94, dan Al Hajj 4, udah itu doang. Nggak ada konsideran 53, atau dan saya kurang sreg gitu yah dengan bang Kodri yang mengatakan, yang tanda tangan si ini, mantan HTI, yang nggak usahlah gitu, itu Nangshih mangshuh, keluarnya bang Khatat dari dulu sebelum HTI, itukan menunjukkan kesadaran. Masa dia masuk lagi, diungkap lagi, loh dulu. Jadi kalau begitu, nggak ada pemaafan dong. Kalau pun dulu itu salah, yaudahlah ini, tanya deh sama pak Nusron apa arti Nasikh mangsuh, mudah-mudahan dia lebih paham untuk menjelaskan kepada bang Kodri sendiri, jadi teman-teman apalagi kegaduhan ini, mbok yah bang Nusron tolong apa yah, mohon maaf saya harus menyampaikan, rada malu sedikit kalau mau membandingkan tagar #2019PrabowoSandi dengan tagar #2019JokowiDuaPeriode, dilapangan yang rame itu bukannya Pak Jokowi Dua Periode, yang terakhir itu menyatakan ada 200 15 orang bang Nusron. Dan sayakan ikut kebawah kelapangan.

Maaf saya nggak paham yang lima biji itu apaan (Babe Ridwan), 15 orang yah yang tereak tereak duaperiode, (Katanya banyak kate die, Babe Ridwan) Makanya, banyak dari mana, banyak dari mana gituloh, kan kita kan ikut semua. Jadio banyak itu pendukungnya buanyak, hebat. Yah, gini deh. Didepan publik kita pengen banget dengan damai, tentram, yah. Yang pak Jokowi mau dua periode dari Tamrin ke kuningan. Yang pak Prabowo Sandiaga Uno dari Kuningan ke Thamrin, kita lihat entar, berani nggak kalau begitu kita tantang. Bismillah yeh, (adu banyak) ye iye kita adu banyak, siape yang lebih didengar oleh umat, kite lihat aja coba-coba sebentar biar ketahuan.

(Itu-itu urusan pemilu nanti yah, jadi. Bang Karni) Iya nanti bang, nanti bang, nanti bang pada waktu kampanye akan kita buktikan. Nah terus kemudian kenapa, fakta itu keluar, coba sekarang semuanya mengatakan, Pak Jokowi juga begitu. Satu ampe 17, yah semua juge begitu, gini aja deh, sampai detik ini walaupun Pak Kapitra kemarin berkata di televisi "Satu hari pak Habib Rizieq pulang", sampai detik ini Pak Jokowi tidak sanggup memulangkan Habib Rizieq, sampai hari ini Pak Tito tidak sanggup mengembalikan Habib Rizieq itu fakta, bahwa sistem disini, rezim disini tidak mampu mengembalikan hak-hak warga negara, yang terbukti tidak bersalah.

Gampang bang Karni, kenapa kita buat pon 16 itu, kenapa. Karena sampai sekarang saya nggak bilang Pak Jokowi tidak sanggung, pak Tito tidak sanggup, saya bilang sampai detik ini Habib Rizieq, demi Allah ingin sekali pulang, tapi ada kekuatan yang tidak bisa membuat da pulang, demi Allah saya bersumpah. Karena hampir setiap malam saya berkomunikasi. Jadi coba, didepan publik kita berkata. Kalau ada, salahnya dimana? Ada 17 masalah, 16, dua yang dibuat SP3, terus selebihnya kemana? Coba pulangkanlah Habib Rizieq. Maka umat akan melihat betul, inikan udah lama, kan dia kepingin pulangnya udah lama, itulah bang Karni. (Yah tapi kita nggak membahas Habib Rizieq, Bang Karni) Iya ok, tapi kenapa keluar pakta integritas, salah satunyakan stresingnyakan di poin ke 16, yang satu katanya forum apalah formalitas atau apalah, yah pasti kita tidak akan terima dibilang formalitas, itu ke moral. Orang dipegang omongannya.

Jadi teman-teman sekalian, nggak usah takut, gituloh, nggak usah takut kalah dengan cara apa, PKB, Pak Lukman mengatakan, tidak mewakili seluruh umat, Pak Inas dari Hanura mengatakan tidak mewakili semua ulama, ini dibawah lagi rame loh. Bang Karni, bangsa kita itu jualan apa aja laku. Bang Karni jadi Nabi terakhir, saya yakin banyak yang percaya. Kenapa? Karena Cecep ada seorang namanya Cecep di Cirebon ngaku Nabi, laku gituloh. Bahkan ada seorang wanita nikah ama Jibril, ada pengikutnya. Nah saya juga, jangan pake statement yang macem-macem, akhirnya semua orang sepakat ama Farhat Abbas, bahwa pilih Jokowi masuk Surga, kan kacau akhirnya. Sudahlah elit, jangan berpendapat yang konyol-konyol begitulah bang Karni, jadi juga seperti itu, yang adem, yang memberikan kesejukan, itu yang kita perlukan sekarang. Kalau saya dibilang, wah ente juga keras kalau ceramah, iyah. Sekarang kita pake Nasikh Mangsuh aja deh, yang kedepan kita lihat bagaimana. Apa nggak... gini ajadeh, strategi yang ingin saya sampaikan yah, sebagai penasehat daripada GNPF.

Satu, jadikan rumah-rumahmu posko pemenangan Prabowo-Sandi. Dua, jadikan pengurus-pengurus masjid sebagai saksi di TPS. Tiga, jadikan HPmu sebagai penangkal berita Hoax. Empat, jadikan audit forensik komputer KPU sebagai kewajiban dan keharusan. Dan lima, jadikan formulis C1 sebagai dasar patokan akhir. Kurangnya dimana coba? Itulah statement yang disampaikan Habib Rizieq dalam Ijtima' Ulama yang ke dua. Mungkin begitu dulu untuk pemanasan, saya menunggu pertanyaan dari yang lain, silahkan tafadhol.

Berikut Videoanya:

Loading...