]

Terkesan Sudutkan Rohis? Kesaksian AHMAD FAIZ Tentang Dita Dibantah Teman Satu Kelas Yang Non Islam... Kita Benci Teroris Tapi Jangan Buat HOAX

Ahmad Faiz kesaksian Dita

Bang Karni: Yang jadi viral katanya...

Ahmad Faiz: Ya tadi saya lihat ada 3 juta reach, dan 21 ribu sharing gitu

Bang Karni: Anda satu angkatan itu satu kelas maksudnya?

Ahmad Faiz: Bukan, jadi, mas Dita ini bukan angkatan saya, jadi dia lulus saya masuk tapi dia senior saya di pengajian gitu.

Bang Karni: Oo Dia lulus anda masuk, jadi apa yang dia lakukan ketika SMA anda nggak tahu?

Ahmad Faiz: Taunya di pengajian, jadi...

Bang Karni: Di pengajian itu dimana?

Ahmad Faiz: Gini, jadi dia waktu itu di SMA di SMA 5 itu, dan saya kira di Surabaya tidak hanya di SMA 5, banyak aktif pergerakan, ini anak-anak muda yang sedang mencari eeee... datang dari pengajian satu ke pengajian yang lain itu, dan di satu pengajian saya ketemu dengan dia sebagai senior saya, saya coba direkrut begitu yah, di prospek di gitu, tapi sekali dua kali saya eee... mm... saya lihat ini nggak nggak masuk akal begitu, artinya ini, ndaklah bukan buat saya gitu, akhirnya...

Bang Karni: Apa yang nggak masuk akal?

Ahmad Faiz: Yah bagi saya, pahamnya itu udah nggak seperti yang saya inginkan begitu,

Bang Karni: Misalnya?

Ahmad Faiz: Apa yah? Kita di Brain wash dulu, kemudian di ee... apa namanya ini ndak bener, pemerintah ini ndak bener, ini thoghut dan seterusnya, bagi say aitu, mik senses itu.

Bang Karni: Itu yang mau ngajarin begitu, Ditanya atau yang punya pengajian?

Ahmad Faiz: Bukan dia di lingkaran senior gitu, dia di lingkaran senior sebagai suporter begitu lah yah, jadi saya cuman melihat sekilas tapi saya lumayan cukup tahu leader-leader di situ dan bagaiamana cara berfikir mereka bagaimana nuansa sikologisnya gitu, jadi yang bikin saya saya prihatin nihkan orang melihat terorisme hanya diujung sini ketika dia bener-bener, hard, begitu yah, udah bertindak bener gitu, dan banyak orang luput adalah bagaimana ini bermula gitu bang karni. Saya bikin tulisan itu sekedar curhat, saya nggak punya maksud apapun nah terus terang saya udah hampir nggak tidur dua hari ini karena diserang berbagai macam, whatsapp saya nggak berhenti-henti kemudian orang yang ada menghujat saya macem-macem termasuk yang dulu kawan-kawan saya jadi berbalik memusuhi saya, wartawan darimulai newyork times sampai...

Bang Karni: Ya kata mereka apa yang anda ceritakan di fesbuk itu tidak begitu, si Dita ini. Artinya berbeda dengan yang mereka tahu.

Ahmad Faiz: Iya jadi... eee.... mereka ini siapa gitu, artinya apa mereka tahu bener gitu, kayak tadi kata tetangganya mereka cuman tahu fisiknya aja, nggak tahu bagaimana alam berfikirnya.

Bang Karni: Alam berfikirnya anda tahu bagaimana?

Ahmad Faiz: Jadi begini... ini kami sedang mencari yah, bang karni yah, kemudian kami menemukan sebuah apa, diyakinkan dengan sebuah eee.. ideologi yang seperti itu, yang garis keras, kemudian memusuhi tapi nggak kelihatan dari luar. Jadi seakan-akan ini ini kita sedang in the street of war begitu tapi silent, jadi apa apa yang awalnya nggak boleh jadi boleh, karena ini kedalam perang. Tapi diluar nggak ngomong nggak kelihatan, ini tahunya yah dilingkaran paling dalam, saya nggak sampai lingkaran paling dalam, tapi saya kenal dengan orang-orang ini dan cerita sama saya, dan alam berfikirnya itu lumayan saya pahami gituloh, sayakan sedihnya begini, saya itu udah eee.... nggak, puasa nggak pasang sosmed gitu yah sepulang saya dari amerika dan inggris kemarin itu, tapi begitu saya lihat di apa... di whatsap ada kakak kelas yang.... share itu, saya kaget setengah mati, karena ternyata mas Dita, jadi saya bener-bener, bener-bener apa... sangat berduka dan sangat prihatin, dan saya spontan aja nulis itu, yang saya ingat bagaiaman waktu itu yang saya tahu bagaiamana waktu itu.

Dan itu benar-benar personal sangat emosional bagi saya.

Bang Karni: Anda juga tulis, di Fesbuk itu bahwa Dita itu tidak mau upacara bendera misalnya

Ahmad Faiz: Oo.... bukan Dita itu, yang lain, jadi ini, makanya banyak koran yang yang keliru mengutip saya yang paling valid yang saya tulis di fesbuk saya, jadi kutipannya banyak yang keliru. Jadi gini di kelompok ini, saya nggak nggak pernah ketemu di... eee mas Dita di di sekolah, yang ketemu mas yang seangkatan dengan beliau, dia angkatan 91 saya angkatan 95, jadi dia keluar saya masuk, tapi di pengajian dia senior gitu, yang masih sering ada disitu, lah kalau teman-teman yang nggak yang nggak di lingkaran utama nggak bakal tahu pola pikirnya seperti apa pola sikologisnya seperti apa.

Bang Karni: Yah tapi dari tadi anda juga belum katakan pola pikirnya seperti apa.

Ahmad Faiz: Dia menganggap orang-orang yang diluar lingkaran ini, itu thoghut itu.

Bang Karni: Diluar lingkaran mana?

Ahmad Faiz: yah yang diluar kelompok dia

Bang Karni: ya kelompok dia itukan kecil sekal i

Ahmad Faiz: Iya.. makanya mereka berusaha rekrut kalau misalnya nggak mau yah, mereka ini ada dua kategorinya, yah... istilahnya itu apa... orang yang... mohon maaf, kafir dzimmi yang kafir tapi tidak... apa namanya nggak perlu diperangi, yang lainnya itu yang... yang harbi gitu yang diperangi, tapi inikan ada ada apa, level levelnya begitu loh, jadi kalau yang baru join yah nggak bakal tahu itu... yah baik-baik saja kayaknya. Apalagi yang teman-teman sehari-hari, yah dianggap baik-baik saja, berprestasi dan normallah.

Bang Karni: La... maksud saya itu kelompok itu dia itu kecil sekali dan umat ini besar sekali seluruh dunia umat Islam, apa thoghut semua itu?

Ahmad Faiz: Yah begitulah cara berfikirnya

Bang Karni: Ya tapi apa benar tangkapan anda bahwa begitu berfikirnya?

Ahmad Faiz: Itu yang saya tahu dari lingkaran pertamanya gitu

Bang Karni: Baik kalau gitu saya tanya pak... Jannes Silitonga, teman sekolah satu angkatan, bagaimana menurut anda?

Janes Silitonga: eee... terima kasih bang Karni, ya sebelumnya, selamat malam, salam sejahtera semua, saya mewakili dari teman-teman satu kelas dari Dita, dan juga kalau satu kelas kami dipanggil Boston kalau satu angkatan 91 itu dipanggil 91rocks itu mengucapkan turut berduka cita dan turut berempati kepada korban baik di Mako Brimob maupun di Surabaya. Eee... sebelumnya bang Karni bahwa pada kejadian hari minggu, begitu kami itu melihat dan mendengar ada peristiwa bom di Surabaya. Khususnya saya secara pribadi itu kesal dan marah dan kita itu grup menyatakan bahwa pelakunya ini biadab, jahannam semua, caci maki keluar semua.

Saya sendiri mohon maaf ini kepada pihak pemerintah atau kapolri dalam hal ini, saya agak berbeda pendapat pada saat mengenai jangan di share foto dan video ini pada hari minggu itu, kenapa? Pemikiran saya begini, kalau tidak di share foto dan video itu, maka orang tidak ada rasa psikologis merasa marah terhadap pelaku, hanya kesannya, ooo ada bom di surabaya, ada korban gitu, tapi begitu melihat mereka terpancing secara psikologis untuk marah, untuk bertindak tegas terhadap teroris yang melakukan itu, saya bilang di share saja, dan ini faktanya, psikologisnya seperti itu saya bilang. Banyak yang bertentangan dengan saya, nanti menimbulkan ketakutan, dari dulu kita tidak takut terhadap teroris, itu yang harus kita tegaskan, dan ini supaya menjadi, apa.. empati tidak hanya karena kasus Surabaya orang Surabaya yang merasa empati, tidak, semua kota di seluruh Indonesia, karena kebetulan bom ini meledak di gereja, tidak hanya kaum nashrani yang berempati tapi semua umat, siapapun pelakunya. Itu prinsip saya pada saat itu, tapi begitu besok pagi, hari senin pagi, disampaikan bahwa pelakunya adalah Dita, khususnya kami yang satu kelas, semua itu merasa terdiam.

Dita yang kami kenal, itu kami punya saya share videonya apa foto, foto jaman kul apa jaman sekolah, itu tidak ada yang pemikiran, radikal eee pemikiran yang seperti dianggap teroris ini mungkin junior saya ya dari Faiz, semua teman-teman dari 91 dan teman-teman satu kelas sampai... coba di klarifikasi sesuai yang saya kenal, yang kami kenal selama 3 tahun, terhadap seorang Dita. Kami kaget, saya juga merenung, Dita apakah dulu betul, Dita ini seorang radikal yang keras, karena kami saya mengalamin Surabaya itu kota yang toleran, ada teman kami namanya Nyoman dekat juga dengan Dita, aktif juga di mushola, beliau seorang muslim keluarganya semuanya Hindu.

Bang karni: Nyoman ini

Janes Silitonga: Iya betul, satu.. sama keluarganya muslim, saya tanya, kenapa diijinkan? Karena melihat bahwa yang dijalankan agamanya bagus. Jadi saya lihat di Surabaya itu toleran betul, toleransi, jadi terjadi kejadian itu kami shock, apalagi dimunculkan pelakunya Dita, nah, Dita ini... mas Faiz sempat membuat di Facebook saya disampaikan, kebetulan saya bawa teman saya pengurus SKI, seksi kerohanian Islam namanya cak Budi, Budi Susanto, jamannya Dita waktu itu. Belum ada istilah Rohis, di SKI diistilakan, belum ada istilah Rohis, makanya kita mau klarifikasi itu. Jadi yang ada SKI, ketua SKI, gitu.

Terus pada saat kelas satu, saya dengan Dita 1-7 kelas dua itu pembagian kami di Biologi, di Boston biologi seksen of the numble kelasnya dibelakang, baru kekelas tiga kita dekat musholah. Memang Dita pada saat kelas tiga aktif di Mushola, tapi saat itu tidak ada, apa, mulai dia muncul yang disampaikan mas Faiz radikal, saya... saya sendiri Non Muslim, berkawan dengan Dita dan dia panggil saja Jannes dekat, tidak ada dia anti atau terhadap kita nggak ada, seorang Dita ini, kalau terjadi perubahan sesudah itu kita nggak tahu, tapi selama pada saat di SMA 5, kita belum lihat hal seperti itu. Termasuk pada saat beberapa saat Dita beberapa kali dipanggil BP, kita itu kalau ada orang yang dipanggil BP itu sudah jadi isu semua, saya sendiri pernah dipanggil BP karena main petasan, main petasan pada saat anak-anak SMA libur gitu, dipanggil BP, semua pada langsung jadi gunjingan itu, Jannes-jannes dipanggilin kenapa kena? Gitu...

Bang Karni: Dita pernah dipanggil?

Janes Silitonga: Kita tidak pernah mendengar itu.

Bang Karni: Nggak karena dalam facebook dibilang...

Janes Silitonga: Nah itu dia, makanya kita, saya coba mengingat kapan Dita ini pernah dipanggil BP, saya tanya teman-teman, apakah pernah dipanggil BP karena kalau dipanggil BP pasti di jadi gunjingan, kalau dipanggil BP dianggap bandel atau ada kesalahan kekurangan apapun. Nah ini, makanya saya nggak tahu Mas Faiz taunya darimana pernah dipanggil BP, beliau kebetulan juga pada saat masuk kami sudah tamat gitu, jadi nggak tahu informasinya darimana. Jadi mungkin kita mau klarifikasi itu.

Dan kemudian begini bang Karni.

Bang Karni: Bagaiamana dengan tingkat pendidikan itu, nilainya maksud saya

Janes Silitonga: Biasa biasa saja waktu itu

Bang Karni: Tidak istimewa...

Janes Silitonga: Tidak istimewah dan tidak dibawah. Dan kemudian kami coba mengingatkan begini, mungkin kepada mas Faiz yah, eee... jangan terjadi generalisasi misalkan karena aktif di mushola maka semua kegiatan di mushola itu menjadi... ada bibit radikal, jangan di generalisasi juga, jangan. Ini pesan dari teman-teman, kalau memang ada dicurigai lapor saja ke guru. Kalau ada narasumber yang diundang di mushola yang memberikan pandangan-pandangan ceramah yang tidak benar, kalau diingat siapa, lapor saja, ke guru ke pihak berwajib. Tapi jangan membuat generalisasi yang membuat kekhawatiran dan teman-teman juga menjadi khawatir mau beraktifitas di keagamaannya masing-masing termasuk di kristiani juga, begitu bang Karni.

Dari pemikiran kami seperti itu, jadi kalau misalkan memang betul kita, Mas Fais, yang disampaikan mas Faiz, jangan melihat terjadinya saat ini, mungkin sebelum-sebelumnya ada bibit, tapi coba ditelusurin dengan benar, bibitnya itu mulai dari kapan. Kalau ada terjadi brain wash, siapa pelaku brain washnya, ditelusuri benar. Jadi jangan sampai terjadi salah.... Salah tangkap dan akhirnya membabi-buta semua, jangan. Kita setuju mas Faiz sampaikan, bahwa oh ini tidak terjadinya saat ini saja, tapi sebelumnya sebelumnya, betul, tapi brain wash itu siapa yang melakukan, coba ditelusuri..

Bang Karni: Nah kapan...

Janes Silitonga: Sejak kapan, pelakunya siapa, kejadiannya dimana.

Bang Karni: Jadi dia tidak pernah menolak upacara bendera, tidak pernah. Katanya dalam apa itukan dipanggil BP pun dia tidak mau hadir.

Janes Silitonga: Seingat saya dan teman-teman, tidak pernah di panggil BP. Karena kalau dipanggil BP pasti akan menjadi gunjingan terhadap teman-teman semua. Begitu bang Karni.

Bang Karni: Iya, iya, iya itu juga... Apa Ahmad bahwa anda di bully orang, di... di medsos hari ini, karena dianggap banyak keterangan anda itu yang tidak sesuai dengan faktanya. Dan men-genelisir...

Ahmad Faiz: Saya bisa menjelaskan bang Karni

Bang Karni: Ok, silahkan

Ahmad Faiz: Jadi kalau anda baca di tulisan saya bukan dari yang versinya wartawan yah, jadi gi ada ada ada ada dua hal yang mau saya klarifikasi, jadi ada Dita, ada kakak kelas saya yang lain. Saya nggak sebut kakak kelasnya lah, nanti ada.... Jadi eee... Ini... Dita itu, saya nggak pernah ketemu di sekolah bang Karni, jadi kalau dia dipanggil BP ndak, bukan dia yang dipanggil BP, kita ketemunya di pengajian, itu ee... dengan Dita yah, nah cuman kelompok-kelompok ini, jadi lingkaran-lingkaran Dita ini, adalah orang-orang yang kalau yat, kalau upacara nggak mau, kemudian Dita di pengajian saya kenalnya, bukan di Sekolah, karena dia sudah lulus, cuman kelompok ini bang Karni, kaderisasinya rekrutnya itu di...

Bang Karni: ok, mas Jannes, kayak mas Jannes lebih tahu siapa Dita

Janes Silitonga: Satu masukan... eeee... seperti yang saya sampaikan tadi bang Karni, bahwa jangan menyamaratakan, kalau memang ada tanda-tanda misalkan, dari siapapun, juga tanggung jawab sekolah, maupun di kampus tanggung jawab pihak kampus, ada indikasi pengajaran yang radikal atau tidak benar langsung ditelusurin, termasuk pada mas Faiz, kalau misalkan ini kejadian terhadap Dita, mungkin mas Faiz coba tanya kepada senior-senior, yang angkatan 91, dulu bagaimana si Dita, supaya tidak membuat kesimpulan, yang membuat semua, IKASAMAnCA khususnya Ikatan Alumni SMA Panca, lima SMA Lima, berpositif thingking, bang Karni, itu saja.

Bang Karni: Baik, terima kasih.

Berikut Videonya:

Loading...