]

Tentang Blunder 200 Nama Penceramah, Babe Ridwan Saidi Bongkar Bapaknya Menteri Agama Yang Pernah Larang Buku dan Hadits, Ketua MPR Minta Cabut dan Minta Maaf Kepada Umat Islam

Ridwan Saidi

Bang Karni: Pemirsa kita lanjutkan diskusi kita, kemanusiaan saya terikat dengan kemanusiaan anda, karena kita hanya bisa hidup dengan saling terikat, Uskup Desmond Tutu, peraih nobel. Sekarang saya mau ke Babe Ridwan Saidi dulu deh.

Ridwan Saidi: Eh, pada zaman Malaysia itu resesi 31, 33, itu kantor kantor...

Bang Karni: Saya kira...

Ridwan Saidi: Bukan,... membuat ketentuan siapa yang kembali dari tanah suci itu dikumpulkan dulu dipulai Onders, tapi nama ini sudah ditolak sekarang oleh navigasi internasional... dikembalikan pada nama yang asli, pulau kapal. Dipulau kapal itu ada bangunan-bangunan... bekas orang Aremenia, disitulah mereka ditempatkan dan ditanya. Ditest, orang-orang yang dari haji ini. Eee... pertanyaan-pertanyaan itu tidak menyangkut ibadah, tapi menyangkut pengetahuan tentang kota Mekkah, Jeddah dan sebagainya, lantas orang-orang dari kantor... ini yang menentukan kalau begitu kamu boleh pakai gelar haji, kamu boleh pakai busana haji. Kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kata orang-orang Belanda itu, kamu ini haji Singapur. Jadi kewenangan birokrasi sebenanya sampai dimana? Untuk menentukan persoalan-persoalan orang ini pas jadi mubaligh ... masjid-masjid yang cukup, maaf yah, tebal amplopnya atau dia tidak tidak tidak boleh kesitu.

Apa ada kewenangan birokrasi kesampai kesini,... juga persoalan ini yah, dijaman eee persoalan yang sekarang dibicarakan tentang 200 ulama itu pada dasarnya sama dengan yang dilakukan oleh kantor... karena itu dilakukan ketika itu jaman resesi. Soekarno ditangkap tahun 29, karena aktifitasnya lalu dibebaskan tanggal 31 September 1931, dia berangkat kestasiun Gambir, karena sudah janji dengan Husni Thamrin, Husni Thamrin itu kakeknya Portugis. Dia bukan orang Yaman, saya tetangga kok, dengan famili Thamrin saya kenal, dia bukan Yaman, dia orang Portugis kakeknya kakeknya itu Jaksa, yah... dia bukan orang Yaman, jadi dia dijemput oleh Thamrin di Gambir naik becak ke.... untuk memberikan tendangan kehormatan dan tanggal itu dinyatakan sebagai, sebagai hari lahir Persija kemudian hari.

Nah, sekarang kita lihat yang dilakukan oleh kantor... kemudian berlanjut pada era bung Karno, pada era Bung Karno, seleksi Khatib itu tidak tertulis.

Bang Karni: Ada seleksi jaman itu?

Ridwan Saidi: Ada, tapi tidak tertulis tidak diumumkan ini yang ok, 200, yang tidak ee yang maksudnya yang mendapat surat SIK (Surat Ijin Khutbah) ini dia dapat SIK, 200. Yang selebihnya ee tidak dapat SIK, nah kalau dijaman Bung Karno yang di identitify yang tidak dapat SIK, yang tidak dapat SIK itu tidak pula tertulis hanya pada aparat keamanan. Dan penyelesaian terhadap diri mereka ini adalah dengan jebakan-jebakan, antara lain adalah yang dialami oleh HAMKA.

HAMKA itu mendatangi suatu pesta khitanan di... Tangerang, dengan sejumlah ulama, itu ditangkap karena rapat gelap.

Bang Karni: Karena?

Ridwan Saidi: Rapat gelap, habislah apa namanya orang, tokoh-tokoh ini dari mimbar Jum'at. Tapi yang paling parah yang dialami oleh... suratnya sempat saya baca, dia mengatakan sudah 3 bulan saya tidak bisa berkata-kata dan saya hidup dari tetesan air pisang Ambon, karena mulut saya distrum. Dan saya besuk,... kemudian Kiai Haji Syaifuddin Zuhri ayahya Lukman Syaifuddin mengeluarkan ketentuan, 167 kitab-kitab yang tidak boleh masuk ke pesantren. Dan yang saya heran antara lain adalah kitab Hasbi Asyidiqi, itukan kitab hadits semua. HAMKA yah dilarang, tapi dilarang juga kita seperti Amir Syakib Aslan limadzab akharal muslimun itu dilarang juga ada 167 dilarang pada waktu itu, jadi ini...

Bang Karni: Itu pada demokrasi terpimpin?

Ridwan Saidi: Iya dijaman itu, ini saya rasa yah, ini melanjutkan saja, saya terbatas kepada Kementrian Agama, putranya pak Syaifuddin ini dia hanya melanjutkan saja, bapaknya. Hehehe... ini persoalan Gen yah saya kira nggak ada dokter disini, jadi ini, inikan harus diakhiri, yang seperti ini, dia harus diakhiri yang menentukan itu adalah Jamaah dia suka atau nggak suka dan pengurus masjid. Orang ini OK atau nggak ok, yahkan dan juga pihak keamanan kalau orang ini free kick, kan begitu.

Bang Karni: Yah kalau orangnya menghasud misalnya?

Ridwan Saidi: Yah free kick dia berartikan, ndak bisa, eee ini nggak terjadi saya kira dijaman Orde Baru, maaf yah.

Bang Karni: Orde Baru nggak, sekeras itu?

Ridwan Saidi: Tidak, pada masjid nggak. Tapi pada kampanye politik iyah, kampanye partai politik masjid nggak ada jaman Orde Baru, yah jadi ini kok satu lompatan sejarah dilakukan oleh Lukman Hakim Syaifuddin, ini .... kalau orang Belanda bilang ini yang dia lakukan. Saya kalau boleh berbicara tentang Undang Undang Auditor, saya kok tiba-tiba saya merasa bangga yah sama DPR ini, yang underistimed saya selama ini yah, saya harus akui Excelent anda punya pekerjaan.

Seperti apapun Undang Undang itu, tetap lebih bagus daripada tidak ada Undang-Undang, Hamurabi ketika membuat Hukum dalam 17 Tablet, yang dipajang di Persia Utara, dia sadar nggak lengkap kok. Nggak lengkap, hukum adalah sebuah proses, bagiamana pun juga anda telah membuat suatu echiefment, jangan sampai berulang jaman PNPS Nomer 11 Subversi Tahun 63, nggak ada definisi, nggak ada apa-apa, cuman segitu. Jadi eee... Ok sekarang anda eee mungkin ada kekurangan juga ada sedikit terbalik yah definisi belakangan dibikin iya kan, jadi intinya apakah itu makan anda belum tahu tapi anda sudah caplok ubi, caplok singkong, nggak apa-apa, itu apa, itukan cuma masalah urutan.

Jadi ini yang harus eee kita berbangga yahkan, saya juga sering mengkritik DPR tapikan tidak semua yang harus kita kritik, yah kan. Kita harus sambut, dimana mereka mampu merumuskan penempatan peranan TNI didalam keselamatan negara. Secara yuridis, walaupun sudah dibuat didalam Undang-Undang 2004. Gitu, 2004 jadi oleh karena itu menurut pandangan saya sekarang yang harus kita seluruhnya eee lakukan, eee disini adalah marilah kita beri jalan kan kita sudah pilih DPR ini, beri jalan dia menyelesaikan tugasnya. Berilah dia jalan, eee kita sambut pekerjaan dia, dia sudah kita pilih kita beli amanat, apapun itu kita terima itu, nah itu, mengenai bagaimana itu implementasinya yaitu didalam peraturan perundangan, dibuat implementasinya karena ini penting, saya mendengarkan pak Gatot, sejak beliau itu kepala Kostrad, Panglima Kostrad diakan sudah bicara seperti ini, bukan baru yang diucapkan, saya menyimak keterangan-keterangan beliau, yang beliau rumuskan sebagai Proxy War selalu, walaupun nggak pernah dibuat definisinya juga, tapi kita mengertilah apa yang dia maksudkan dengan Proxy War, nah ini luas. Kalau koran-koran diluar negeri mengatakan peristiwa Mako Brimob peristiwa sampai ke Gereja, Gereja di Surabaya, itu attack bukan lagi terror. Itu Attack, tingkatannya, jadi kalau sudah Attack begitu memang kita harus mengantisipasinya dalam bentuk hukum, agar kita bertindak itu TNI bertindak sesuai dengan hukum.

TNI memang harus kembali menjalankan fungsinya, kembali menjalankan fungsinya reformasi itu sudah selesai, tesis-tesis mereka sudah gagal. Sudah gagal, sudah selesai jadi harus kembali untuk menciptakan negara yang kuat, tantangan besar pak, pak Gatot itu benar. Negara ini harus kuat, untuk menghadapi segala tantangan. dan itulah peran TNI. Saya kira itu terima kasih.

Bang Karni: Makasih Babe, kita sudah sampai, kemana, Portugis, kemana, Hamurabi, luar biasa, sekarang giliran ketua MPR

Ketua MPR: Makasih bang Karni, Bang Karni tampilannya malam ini keren sekali yah. Wah, kalah kita. Maksudnya warnanya bang Karni... Soal apa nih Bang Karni

Bang Karni: Saya dengar di tivi, ketua MPR itu kritiknya keras sekali terhadap 200 nama yang diumumkan ini.

Ketua MPR: Betul itu, saya kira blunder besar. Yang dilakukan oleh Kementerian Agama. Eee.. secepatnya tarik dan minta maaf.

Bang Karni: Karena apa?

Ketua MPR: Bang Karni, Pemerintah kita ini dikesankan tidak ramah pada para ulama. Umat Islam, dikesankan tanda kutip, oleh karena itu Presiden bekerja keras untuk menetralisir itu, hampir seluruh pesantren Presiden datang, setiap pada acara Islam, Presiden datang, dimanapun, bahkan saya beberapa kali menemani untuk menghapus stempel bahwa pemerintah tidak ramah dan ulama dan umat Islam. Bekerja keras Presiden, tiba-tiba Kemenag politik belah bambu.

Pancasila itu mempersatukan Bang Karni, bukan memecah belah begini, 200 diangkat yang 200 ribu dipijak, itu kerja keras Presiden selama 1 tahun lebih ini sirna saya kira. Oleh karena saya katakan, blunder besar. Nanti kalau pertanyaan lanjutan, kalau ada ulama Islam disertifikat, sertifikasi nah terus nanti Pastur, Pendeta gimana? Apa yang terjadi dinegeri kita, mau jadi kita Bang Karni. Oleh karena itu blunder besar.

Menurut saya, jangan berdalih, cabut, tarik minta maaf, banyak pekerjaan pekerjaan penting di Kementerian Agama yang harus di selesaikan Bang Karni. Antara lain misalnya, saya di MPR kedatangan banyak sekali tamu ratusan ribu, umat Islam yang Umroh dan Haji terlantar Bang Karni, bukan 10 ribu, ratusan ribu, bukan baru kemarin, bertahun-tahun. Bertahun-tahun, terlantar tidak bisa berangkat orang kampung yang jual sawah, jual kerbau, jual sapi, bertahun-tahun ngumpulkan uang 10 juta mau berangkat Umroh. Ada yang berangkat haji, tidak bisa berangkat, padahal ini tugas Kementerian Agama, kemudian Kementerian Agama, sudah kalau begitu tutup saja perusahaannya, dimana tanggungjawabnya? Pembiaran, bertahun-tahun, pembiaran. Dimana tanggung jawab peka tadi. Aa Gym mengatakan, kepekaannya, empatinya, Menteri Agama kepada umat Islam kepada Rakyat empatinya itu ada dimana? Tutup sudah selesai begitu saja, ratusan ribu orang tidak bisa berangkat, bertahun-tahun, itu lebih penting. Sekarang bikin blunder baru, memberikan sertifikat para ulama, persoalan baru, kasihan pak Presiden menurut saya.

Bang Karni: Pak Ketua nggak hubungin menteri agama soal ini?

Ketua MPR: Belum sempat, baru pulang Umroh saya bang Karni, terus ke Sulawesi Utara, ada perintah dari Bang Karni kemari, yah langsung kemari, makanya pakaiannya seperti ini, mohon maaf.

Bang Karni: Jadi cabut?

Ketua MPR: Saya bilang cabut, kalau menurut saya, kalau tidak ini akan berkembang terus, tentu akan sangat merugikan kita, termasuk bernegara, curiga mencurigai, gaduh, dan tidak ada gunanya, Bang Karni bayangkan, sekarang ini jaman Demokrasi, orang bikin IUP saja nggak ada ijinnya. Bikin berita yang isinya macam-macam, nggak ada itu ijin.

Bang Karni: SIUP

Ketua MPR: SIUP, SIUP, yah SIUP, SIUP pak, tidak perlu ijin tidak perlu apa-apa, ini orang mau ceramah, orang mau menyampaikan suatu menurut kemampuannya masing-masing, mesti di sertifikasi. Saya kira itu aneh itu bang Karni, oleh karena itu saya mengatakan blunder, segera cabut, minta maaf. Mudah-mudahan itu bisa mengobati, mudah-mudahan. Gitu bang Karni.

Bang Karni: Terima kasih udah...

Narasumber Lain: Bang karni boleh tambahan, sedikit, saya cuman mau melengkapi apa yang pak Zul sampaikan.

Bang Karni: Apa? Tapi jangan panjang

Narasumber Lain: Sedikit saja, kalau pak Menteri Agama mengatakan akan menambah daftar itu, sampai berapa, di Jakarta saja, Masjid, Mushola dan penyelenggara pengajian, saya punya datanya ada 7800 titik, jadi sampai berapa Pak Menteri mau menambah? Berapa juta titik yang harus terjadi, kalau ternyata semuanya harus dipenuhi, maka Pak Menteri akan punya jutaan daftar nama, bagaiamana cara membacanya jutaan daftar nama, jadi saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan pak Zul, tidak ada kata lain selain tarik dan segera minta maaf, apa yang pak Menteri katakan minta maaf, bukan soal daftar, beliau minta maaf kepada Ustad yang namanya tercantum tapi beliau belum hubungi, tapi itu minta maafnya, bukan soal kertasnya, cabut dan minta maaf kepada semua umat.

Ketua MPR: Sedikit bang Karni, Kalau ada yang tidak benar, ada hukumnya, ada aparat, tangkap. Itu, biarlah masyarakat yang menentukan siapa yang ingin mereka undang. Jadi kalau diteruskan seperti ini, maka saling curiga kegaduhan saya kira akan terus, apalagi kita masuk bulan suci Ramadhan, masuk tahun politik, yang nggak perlu-perlu ini Bang Karni. Terima kasih.

Bang Karni: Terima kasih, saya masih anu dengan ceramahnya Babe tadi. Saya ingat Mao Tjetung, dengan idenya... Lompatan besar kedepan. Maksudnya dibidang ekonomi, tapi akibatnya jutaan orang meninggal di Tiongkok.

Ridwan Saidi: Nggak yang saya bilang tadi, Menteri Agama ini melakukan... Lompatan didalam gelap, yah didalam gelap, bukan lompatan...

Berikut Videonya:

Loading...