]

Pengertian Wasiat dari Ustad Abdul Somad

Pengerti Wasiat dari Ustad Abdul Somad

Bapak ibu yang dimuliakan Allah Subhana wata'alah, zakat, wakaf, infaq, sodaqoh. Ada lagi pak Ustad? Ada. Apa namanya? Wasiat. Wasiat, wasiat itu wajib ditunaikan, tapi ndak boleh sepertiga harta. Saya berwasiat, harta saya enam ratus juta untuk masjid Babussalam. Dihitung dulu total harta dia berapa, enam ratus. Yah Nggak Sah. Hartanya enam ratus, semua dia kasih enam ratus, rupanya dia nggak punya anak, istrinya selingkuh. Saudara-saudaranya waktu dia sakit tidak ada yang njenguk, lalu dia berkata, aku kalau mati nanti semua hartaku kuserahkan untuk masjid Babussalam sebanyak enam ratus juta, adapun istri dan saudaraku sendal jempitku saja kasihkan kemereka. Maka wasiat itu batal, wasiat yang tertunaikan hanya sepertiga saja enam ratus juta, maka yang diperoleh oleh Masjid Babussalam hanya dua ratus. Maka bapak pun pulang ditanya sama pengurus yang lain, gimana pak dapat enam ratus? Mantap! Dua ratus.

Yang empat ratus diambil ahli waris, isterinya dapat berapa? Isteri dapat seperempat, kalau tidak ada anak, kalau kamu tidak ada anak, maka isterimu dapat seperempat, seperempat isteri dapat. Makanya kalian wahai isteri-isteri yang sholehah, terus suami kalian sedang sakit, kalian jagalah, karena kalian dapat seperempat. Mas, makan yah mas. Jangan kau layani aku. Tenang mas, aku dapat seperempat nanti mas. Dapat seperempat, hartanya berapa, 2 M. Seperempatnya berapa tuh? Lima ratus juta, kalau dapat lima ratus juta, suami sudah meninggal. Hem... Seratus pergi ke salon, seratus belikan motor besar, tinggal tiga ratus, nikah sama brownis.

Lalu yang kau bawa mati mana? Mana yang kau bawa mati? Itulah yang kau wasiatkan. Maka wasiatkanlah yang baik-baik, tapi yang namanya wasiat itu harta. Adapun wasiat yang tidak bersifat harta, malah ada yang haram. Nanti kalau aku mati, tolong kain kafannya dari kain Jeans, dan makamkan aku diatasnya tanamkan pohon ganja tiga batang. Siramkan dengan air wiski, Oh... itu haram. Nggak boleh dilaksanakan, nanti aku mati tolong tanamkan aku ditepi kali Ciliwung yang ada angin sepoi-sepoi di bawah pohon bambu. Ini mau mati apa piknik?

Oleh sebab itu maka, kalau terkait dengan wasiat itu, nama wasiatnya, wasiat harta. Mesti ditunaikan, nggak boleh lebih dari sepertiga, syaratnya orangnya mesti mati. Kalau nggak mati nggak dapat, maka ketua masjid kalau dapat wasiat, jangan senang dulu. Pak ketum masjid, yah, sini sebentar pak. Iya. Ini saya ada wasiat 1 miliar. Hore... Pulang, rapat pengurus. Pengurus nanti malam datang habis isya yah, alhamdulillah tadi saya dapat wasiat 1 miliar. Pengurus yang mengerti, bapak jangan bangga, kenapa? Diakan belum mati. Ditunggu nggak mati-mati. Sampai 20 tahun, sampai semua jamaah berdoa... Ya Allah, kalau memanglah panjang umurnya baik maka panjangkanlah umurnya, tapi kalau tidak baik maka....

Sampai pada suatu hari orang yang berwasiat inipun sakit, begitu sampai ke pak Ketum masjid. Pak Ketua yang wasiat kemarin sakit, sakit? Alhamdulillah. Datanglah mereka menjenguk ke rumah sakit, keruang ICU. Yaa Allah, Kalau memang sehat baik bagi saudara kami ini maka sehatkanlah umurnya panjangkan umurnya yaa Allah, tapi kalau memang tidak ada gunanya lagi dia hidup maka.... Mudah-mudahan cepat sembuh yah, yah. Pulang, Anaknya menelpon, Assalamualaikum pak Ketua, alhamdulillah berkat bapak tadi datang sekarang sudah pulang kerumah. Itu namanya wasiat.

Wasiat itu orangnya harus mati, nah yang kita boleh bangga langsung bahagia itu namanya hibah. Kalau hibah memang langsung, pak Ketua, Iya. Itu Ruko kan ada yang didepan masjid yah, itu saya hibahkan semua untuk masjid, langsung bawakan hitam diatas putih. Hari ini tanggal 23 Februari tahun 2018, dengan ini saya menghibahkan satu ruko untuk masjid Babussalam, maka saya tidak akan mengambilnya sampai mati, kalau saya ambil lagi maka saya akan disamber geledek. Jadi amal harta ini luar biasa. Zakat sudah, wakaf sudah, infaq sudah, shodaqoh sudah, wasiat sudah, hibah sudah.

Berikut videonya:


Loading...