]

Pengertian Zakat, Infaq, Sodaqoh dan Wakaf Ustad Abdul Somad

Pengertian Zakat, Infaq, Sodaqoh dan Wakaf Ustad Abdul Somad

Bapak ibu yang dimuliakan Allah Subhanawata'alah, ustad, yang atas tadi namanya zakat, dibawah itu namanya, infaq, dibawah itu namanya sodaqoh, ada lagi? Ada, apa namanya? Wakofah, wakof artinya berhenti. kenapa berhenti? Dulu uangnya ngalir tiap bulan, itu ruko siapa? Punya saya pak Ustad. Harganya berapa? 1 M. Disewa orang berapa? 1 tahun 100 juta. Ngalir masuk kantong, tapi setelah wakofah, wakof. Duitnya nggak ngalir lagi, berhenti.

Saya wakafkan ruko ini satu, untuk masjid Babussalam, uangnya, tiap tahun 100 juta silahkan untuk operasional masjid dan gaji guru. Nah itu namanya wakof, tapi harus ada tiga, orang yang berwakaf, orang yang nerima wakaf, ruko yang diwakafkan, ijab dan qobul. Yang berwakaf, wakif, yang nerima wakaf, maukuf alaih, yang di wakafkan, maukuf bi ijab dan qabul, aku wakafkan ruko ini untuk masjid Babussalam karena Allah Ta'ala, tunai, aku terima, sah. Makanya ndak bener kalo ada kotak wakaf. karena kita nggak pernah akad ke kotak, mana pernah kita masukkan duit ke kotak. Kotak terimalah duitku ini, lalu kota itu menjawab, aku terima, aku terima, aku terima.

Nah, jadi jelas harus ada kotak-kotaknya, ini namanya zakat, ini namanya infaq, ini namanya shodaqoh, ini namanya wakaf. Ustad, tanah saya yang dua hektar silahkan ambil, saya wakafkan lillah, wakaf, saya nggak ada akad, rupanya surat tanah sepuluh tumpang tindih bermasalah. Akhirnya kita datang, pak kami sudah survey itu tanah yang bapak wakafkan 2 hektar ternyata sana bermasalah, gimana? Apa kata dia? Karena bermasalah itulah saya wakafkan. Kalau nggak bermasalah mendingan saya jual.

Makanya kita ini diajak beribadah itu mukhlisinalahuddin, ikhlas karena Allah subhanawata'alah. Begitu. Jangan karena itu tempat jin buang anak cucu maka di wakafkannya, ambil dua hektar untuk masjid, ambil. Ternyata hari berganti musim berubah berdirilah mall besar, tanah yang dulu tidak laku sekarang berharga 5 juta satu meter. Anak mantunya datang, ini tanah bapak kami. Bapak kalian sudah mewakafkan ke masjid, mana suratnya. Kesalahan masyarakat kita tidak mengurus surat, bahkan ijin bangunan tak diurus, akta notaris tak diurus, ketika ditanya, sudah diurus pak? Sudah kami serahkan kepada Allah Subhanawata'alah. Kita inikan negara hukum. Kalau macam-macam akan surat menyurat, maka buatlah akta ikrar wakaf di kantor urusan Agama kecamatan.

Nah besok kalau sudah ada yang ngurus tanah wakaf, nanti bapak pergi, bapak yang berwakaf ketua masjid yang nerima wakaf, namanya nazzir, ini tanah wakafnya, ikrar di kantor KUA.

Papa mau kemana pa? Mau ke kantor KUA. Jangan nikah lagi Pa.... Yang mau nikah tuh siapa, bu. Itu Papa mau ke KUA. Mengurus akta, akta apa? Ikrar wakaf, ooo... Saya kira mas mau nikah. Nggak, orang nggak ada yang mau kok. Kalau ada yang mau, siapa yang nolak. Saya berani ngomong gini karena nggak ngelihat ada ibu-ibu.

Nah... Maka setelah ada ikrar akta wakaf, siapapun tidak bisa. Nih pak KUA, saksikan pak KUA yah. Aku wakafkan tanahku ini 2 hektar, untuk pembangunan sekolah SDIT, Masjid Babussalam, karena Allah Ta'alah tunai. Aku terima, Sah. Keluarlah surat akta ikrar wakaf kementerian agama, bekerjasama dengan kementerian hukum dan HAM Republik Negara Kesatuan Indonesia. Sah. Siapapun tak bisa mengganggu-gugat. Datang anak cucunya, ini tanah bapak kami. Ini sudah ada suratnya, tengok. Ndak bisa nuntut, siapapun ndak bisa nuntut. Karena banyak juga anak-anak setan sekarang. Bapaknya baik, ibunya baik, tapi anaknya terlalu banyak makan haram, akhirnya otaknya haram, haram, haram, na'udzubillah. Maka jangan kasih anak-anak kita makan haram. Mudah-mudahan anak-anak kita selamat dari makan haram. Kenapa Ustad berani minum ini. Karena ada tulisan halal disini, oh ndak ada tulisan halal. Ada. Nih dia, label halal Majelis Ulama Indonesia, kode produksi, nggak ada kodenya.

Ini videonya:


Loading...