]

Antara Kafir, Muslim Abal-abal dan Muslim Sejati



Jelas, ditengah antara air laut dengan air tawar ada pemisah di tengah layar tidak akan pernah bersatu, antara Muslim sejati dengan muslim abal-abal, tidak pernah ada titik temu, di sana ada sekuler, di sana ada liberal, disana ada komunis. Di sana ada Syiah, di sana ada kafir, mereka satu partai, partai itu bernama aliansi ahzab. Kapan, dulu. Namanya perang ahzab, hizb partai, hizmani dua partai, ahzab, partai-partai. Perang itu bernama perang ahzab, karena ada tiga koalisi. Siapa dia? Yahudi, Kafir musyrik dan munafik. Perang itu bernama perang ahzab, tapi juga disebut perang Khandak.

Mengapa disebut Khandak? Parit, karena Salman Al Farisi bertanya, wahai Rasulullah, bolehkah aku punya ide, strategi, untuk menghadapi mereka. Apa idenya Salman? Bagaimana kalau kita buat parit panjang. Kita buat parit panjang dan lebar, sehingga kuda kafir musyrik tidak akan bisa masuk ke kota Madinah. Silahkan. Maka di galilah parit panjang, parit panjang itu bahasa arabnya, Khandak. Maka perang itu disebut, perang Khandak. Disebut juga perang, Ahzab. Koalisi empat belas abad yang lalu sudah diajarkan koalisi. Tiga berkoalisi, kafir musyrik, munafik, dan Yahudi berkoalisi. Maka jangan heran dengan koalisi-koalisi ini, karena ini biasa dalam perjalanan panjang. Hanya orang yang baru tahu sejarah saja yang terbengong dan terbingung, bagi kita, ini suatu yang biasa.

Dimana muslim berada? Muslim sejati berada, ditengah kancah peperangan, mereka tidak takut sedikitpun, kenapa? Karena mereka shalat di masjid, dan orang yang shalat di masjid itu sifatnya lima, beriman kepada Allah, beriman kepada Allah dan hari Akhirat, menegakkan shalat, membayar zakat, dan dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah Subhanawata’alah. Takutkah Abdul Somad? Tidak, mengapa Abdul Somad tidak takut? Disebelah kiriku tentara, di sebelah kananku polisi, disebelah kananku pengacara, disebelah kiriku jawara, apa namanya Japar, jawara dan pengacara.

Apa yang ditakutkan, apa yang dikhawatirkan ustad Somad? Dari mulai pintu sampai kedalam, para jawara dengan golok-goloknya. Luar biasa, padahal itu diasah tajam bukan untuk sekarang, nanti idhul Adha baru dia gunakan. Insya Allah kita semua tidak takut kecuali kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ternyata dia yang ceramah orang tersenyum, senang orang tertawa, orang tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang serius tapi ada yang ketakutan, ada yang kekhawatiran, ada, ternyata orang kalau sudah takut, kalau orang sudah takut, orang tertawa pun orang takut.

Dia belum serius orang sudah takut, yang ketawa-ketawa aja orang takut, dia kurut saja orang takut, gimana kalau dia ikut fitnes. Gimana kalau dia serius, orang takut padahal dia memegang mikropon. Ini orang harus diusir, ini orang harus dideportasi, karena dia bisa merusak suara, kenapa? Karena suara dia menggelegar, karena suara dia kuat. Oleh sebab itu kalau masjid-masjid, yang tidak siap kayu-kayunya, yang kira-kira tanggal baut-bautnya, maka jangan undang dia. Masjid ini berani mengundang kenapa? Karena memang tidak ada kayu dan baut. Karena masjid ini belum siap, maka yang punya uang banyak, siapkanlah masjid ini. Jangan sampai kita dikutuk Allah subhanawata’alah, karena rumah megah mewah, sementara rumah Allah dibiarkan, rumahmu yang besar, dua lantai empat kamar, yang kebetulan sama ciri-cirinya jangan tersinggung. Wah, rumah saya itu.

Bukan, kebetulan saja, ingat, kau akan tinggal, rumah besar kau akan tinggal, setelah itu apa yang terjadi? Ternyata rumah besar itu diwarisi oleh istrimu, lalu setelah itu tak lama istrimu menikah dengan bronis, dulu yang membeli tanah itu engkau. Dulu yang membeli semennya engkau, yang menjadi arsiteknya engkau, yang menggambarnya engkau, sekarang yang tersenyum manis dirumah itu siapa? Anak muda yang sekarang menjjadi suami kedua istrimu, kau dimana? Kau dimakan cacing tanah, tapi kalau kau pernah belikan dua kotak… kau belikan dua sak semen, itu yang akan menjadi kekal abadi. Mana kotak? Keluarkan. Kalau tidak ada kotak, sorban. Mana sorban? Saya dikasih sorban tapi tidak bisa menampung duit.

Keluarkanlah bagilah, ustad itu hanya ceramah saja, ceramah sedekah, maka dia sendiripun tak sedekah, kebetulan untung saya bawa dompet subuh ini, jangan diambil dompetnya, yang ada isinya Muhammad husni thamrin, satu lagi pangeran Antasari, agak besar dikit itu tuanku Imam Bonjol, agak besar lagi agak besar lagi itu, bukan, Sultan Mahmud Badaruddin. Baru, banyak betul duit 2000, tak ada yang besar, ambil semua.

Inilah ceramah yang paling menyedihkan selama ini, asal dilihat disana, menetes air mata. Bawa ke sana keliling, dan terus yang tidak ada duitnya, masukkan kartu kartu atm-nya ke dalam. Lengkap nomor pinnya sekalian. Itulah yang akan menolong dihadapan Allah subhanahu wa ta'ala, itulah yang akan menjadi bekal kita menghadap Allah subhanahu wa ta'ala. Yang kau makan, busuk, yang pakai lampuk. Tak ribut bersuara, karena mengeluarkan duit tak perlu pakai suara, ribut-ribut rupanya 2000 perak.

Saudara yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta'ala, kita tak perlu khawatir tak perlu takut, anak-anak muda yang ada di hadapan saya ini sekarang ini akan menjadi besi berani magnet magnet 10 tahun yang akan datang.  Khawatir luar biasa, mereka dirusak dengan sekuler, mereka dirusak dengan liberal, mereka dirusak oleh komunis, mereka dirusak oleh aliran sesat. Mereka dirusak oleh sinetron korea, mereka dirusak oleh boyband, mereka dirusak oleh lady boy, bencong, mereka dirusak oleh hiv aids, mereka dirusak oleh zina, tetapi insya Allah mereka tidak akan rusak, kenapa? Mereka akan dididik di sekolah Islam terpadu.

Yang sudah mendaftarkan anaknya ke sekolah Islam, alhamdulillah, yang belum mendaftarkan anaknya ke sekolah islam, na’udzubillah. Matilah kau dimakan cacing tanah. Memangnya nanti kalau sakaratul maut, anak yang pandai main keyboard, dipanggilkan guru keyboard kau bayar sekian juta, nanti kalau kau mati anakmu akan membuka keyboard akan menyanyikannya lagu, AYAH… kau terimlah lagu beserta keyboard keyboard nya di alam barzah. Nanti anakmu yang sekolah Islam terpadu yangakan membaca di tengah malam, Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran, mudah-mudahan itu anak kita, insya Allah. Amien.

Dengar suaranya, suaranya kecil disini, amien, berarti dia ada hadir disini. Mungkin umurnya masih 5-6 tahun, sekarang dia baru kelas 1 smp, 3 tahun smp, 3 tahun sma ,4 tahun dia kuliah s1, 2018 dia kelas satu smp, 2028 dia sudah lulus PNS, 2038 dia akan mencalon menjadi calon anggota legislatif, dia yang akan mengeluarkan Perda Syariah, Allahu Akbar. 2038 dia yang akan menjadi bupati walikota, dia yang akan menerapkan shalat berjamaah kepada pegawai kantor-kantornya, Allahu Akbar. Hari ini kau boleh berputus asa, hari ini kau boleh berduka, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan, lihatlah mereka yang sedang berseragam pink, trio maut. Mereka akan membunuh, mereka akan membunuh kebodohan, mereka akan membunuh kejahilan, mereka akan menjadi pasukan jundun min jundulillah, tentara-tentara Allah, Allahu Akbar. Dan ketika mereka nanti berkumpul reuni bersama, mereka akan membuat nobar, nonton bareng. Filmnya apa?

Apakah Manchester United dengan Liverpol, apakah Real Madrid dengan Barcelona, tidak. Mereka akan menonton ceramah ustad somad 20 tahun yang lalu, mereka berkumpul dengan anak mereka, dengan istri mereka, dengan pasang layar besar, mereka tonton. Videonya darimana? Itu yang merekam-merekam itu, mereka simpan files di laptop mereka, mereka tonton, mereka perlihatkan ke istri mereka, mereka tunjukkan ke anak mereka. Setelah itu mereka reuni bersama, mereka menonton dan anak mereka bertanya, papa-papa, itu siapa? Itu Ustad Somad. Dimana dia sekarang, dia sudah mati dmakan cacing tanah. Tetapi pahala tetap melahir, melahir dan menetes, sedihkah kita? Tidak, Abdul Somad tidak pernah sedih sedikitpun, karena mati hanyalah perpindahan, dulupun aku juga pindah, dari alam Ruh pindah ke alam Rahim, dari alam Rahim pindah ke alam dunia, dari alam dunia pindah ke alam barzah, dari alam barzah pindah ke alam surga, bersama Nabi Muhammad Shallu’alaihi wasalam. Apa yang kau sedihkan? Apa yang kau sedihkan? Kau tak pernah mati. Di alam ruh kau hidup, di alam rahim kau hidup, di alam dunia kau hidup, di alam barzah kau hidup, di surga kau hidup. Kau tak pernah mati, orang berkata kau mati, dia sudah mati. Dia tidak mati, dia hidup tapi mereka tidak bisa merasakan kehidupannya. Jangan pernah kau merasakan mati saudaraku, Buya Hamka tak pernah mati, Buya Muhamamd Nasir tak pernah mati, mbah Hasyim Asy’ari tak pernah mati. Dari pegangannya nampak duitnya panjang, tapi beratnya saya khawatir uang kerincing semua.

Insya Allah kita hitung nanti bersama, umumkan besok, mudah-mudahan hasilnya banyak. Kalau kurang banyak, buat sekali lagi, sampai masjid ini benar-benar utuh berdiri, dan nanti ketika sudah selesai, undanglah saya, peletakkan keramik terakhir. Jangan undang saya pelatikan batu pertama, karena saya terauma, masjid yang saya letakkan batu pertama sampai sekarang belum selesai. Setiap saya lewat disitu saya merasa berdosa, dan sampai sekarang saya tidak mau diundang pengajian kesitu, pasti judulya.. Yaa Dana…. Yaa Dana…. Yaa Dana…. Yaa Allah selesaikanlah masjid kami ini yaa Allah, setiap kami melihat dinding dinding sakit hati, hingga menangis tak juga keluar duit.

Saudara yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta'ala ini pertemuan subuh ini. Pertemuan kita ini karena Allah. Bertemunya di rumah Allah, bersama hamba-hamba Allah, yang dikaji hadis-hadis rosululloh, tidak ada yang kita inginkan kecuali mencari ridho Allah subhanawata’alah, yang kita inginkan hanya satu, allahumma timlana… saya diberikan informasi, ustad ceramah sampai 06.15 saja, sisanya 6 sekarang 15 menit, kita jawab pertanyaan.

Videonya:

Loading...